{"id":1803,"date":"2018-04-24T06:59:48","date_gmt":"2018-04-24T06:59:48","guid":{"rendered":"http:\/\/intp.fapet.ipb.ac.id\/?p=1803"},"modified":"2018-04-25T03:20:42","modified_gmt":"2018-04-25T03:20:42","slug":"sapi-menyirih-untuk-susu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/?p=1803","title":{"rendered":"Sapi Menyirih untuk Susu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Mastitis (radang ambing) adalah penyakit utama pada ternak sapi perah yang paling merugikan peternak. Kerugian akibat mastitis meliputi penurunan produksi susu, penolakan susu oleh industri, biaya pengobatan dan pengafkiran ternak lebih awal. Kerugian yang dialami peternak sapi perah di seluruh dunia akibat mastitis mencapai US$ 10 milyar\/tahun. Kasus mastitis di Indonesia diperkirakan sekitar 85% dari total populasi sapi perah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengobatan dengan antibiotik masih dalam perdebatan. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun sirih yang dicampur dengan konsentrat dapat mengobati mastitis serta meningkatkan produksi bahan kering susu pada sapi perah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1804\" src=\"http:\/\/intp.fapet.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/sirih-300x186.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"186\" srcset=\"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/sirih-300x186.jpg 300w, https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/sirih.jpg 681w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perspektif: Pengobatan ke hewan ternak yang dikonsumsi bisa memberikan dampak bagi manusia. Oleh karenanya pengobatan yang paling baik adalah pengobatan herbal yang efektif dan memberikan dampak negatif minimal ke manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keunggulan Inovasi:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>\u00a0Aman, penggunaan herbal daun sirih tidak meninggalkan residu berbahaya<\/li>\n<li>\u00a0Praktis, langsung dicampurkan dengan konsentrat<\/li>\n<li>\u00a0Lebih hemat dibandingkan penggunaan antibiotika yang masih didebatkan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Potensi Aplikasi:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suplemen tepung daun sirih bisa menjadi solusi bagi stake holder industri sapi perah baik lokal, nasional maupun global dalam mengatasi masalah mastitis pada sapi perah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovator<br \/>\nNama : Dr.Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mastitis (radang ambing) adalah penyakit utama pada ternak sapi perah yang paling merugikan peternak. Kerugian akibat mastitis meliputi penurunan produksi susu, penolakan susu oleh industri, biaya pengobatan dan pengafkiran ternak lebih awal. Kerugian yang dialami peternak sapi perah di seluruh dunia akibat mastitis mencapai US$ 10 milyar\/tahun. Kasus mastitis di Indonesia diperkirakan sekitar 85% dari total populasi sapi perah. Pengobatan dengan antibiotik masih dalam perdebatan. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun sirih yang dicampur dengan konsentrat dapat mengobati mastitis serta meningkatkan produksi bahan kering susu pada sapi perah. Perspektif: Pengobatan ke hewan ternak yang dikonsumsi bisa memberikan dampak bagi manusia. Oleh karenanya pengobatan yang paling baik adalah pengobatan herbal yang efektif dan memberikan dampak negatif minimal ke manusia. Keunggulan Inovasi: \u00a0Aman, penggunaan herbal daun sirih tidak meninggalkan residu berbahaya \u00a0Praktis, langsung dicampurkan dengan konsentrat \u00a0Lebih hemat dibandingkan penggunaan antibiotika yang masih didebatkan. Potensi Aplikasi: Suplemen tepung daun sirih bisa menjadi solusi bagi stake holder industri sapi perah baik lokal, nasional maupun global dalam mengatasi masalah mastitis pada sapi perah. Inovator Nama : Dr.Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1804,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1803"}],"collection":[{"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1803"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1803\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1823,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1803\/revisions\/1823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/intp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}