//Rembug Online INTP “Strategi Bisnis Industri Pakan dan Peternakan Perunggasan akibat Pandemi Covid 19” dihadiri sekitar 200 peserta

Rembug Online INTP “Strategi Bisnis Industri Pakan dan Peternakan Perunggasan akibat Pandemi Covid 19” dihadiri sekitar 200 peserta

Bogor, 22 April 2020, Produk peternakan dan pertanian mengalami kendala di produsen dengan harga produk jatuh, distribusi ke konsumen macet, sedangkan konsumen mendapatkan harga produk yang cenderung beranjak naik.  Mengamati perkembangan peternakan dalam pandemi Covid 19 saat ini, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan memandang perlu adanya komunikasi dan diskusi antara berbagai elemen masyarakat.  Oleh karena itu, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan menyelenggarakan rembug online pada hari Rabu, 22 April 2020 pukul 10.00-12.30 dengan topik “Strategi Keberlangsungan Bisnis Industri Pakan dan Peternakan Perunggasan akibat Pandemi Covid 19” yang dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai instansi di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Departemen INTP mengundang dua narasumber utama, yaitu Ir. Audy Joinaldy, S.Pt, M.Sc, M.M, IPM, Asean.Eng (Chairman Perkasa dan Lintas Agro Group) dan Ir. Suaedi Sunanto, SPt., MBA., IPU (CEO Nutricell Pacific) dengan moderator Prof.Dr.Ir. Sumiati MSc (Kepala Divisi Nutrisi Unggas Departemen INTP). Audy Jonaldy memaparkan kondisi peternakan pada saat ini dalam presentasi dengan judul “Poultry and Feed Industry Business during Corona: How to Survive”.  Trend produksi peternakan menjelang puncaknya pada masa Ramadhan dan Idul Fitri mengalami pukulan telak karena ekonomi masyarakat mengalami stagnasi bahkan penurunan struktur kesejahteraan sehingga ada kecenderungan untuk menahan pembelian berbagai produk peternakan. “Pandemi corona ini memukul perekonomian masyarakat seperti krisis 1998.  Hanya bedanya pada tahun 1998 masyarakat masih bisa bergerak sedangkan saat ini masyarakat harus menahan diri di rumah dengan adanya social distancing” paparnya.  Produk peternakan saat ini banyak menggunakan sistem penjualan direct selling to consumer dan juga pemotongan rantai penjualan dengan mengerahkan karyawan peternakan untuk membantu menjual dan mendistribusikan produk.

Dalam presentasi kedua, Suaedi Sunanto memaparkan materi “Animal Business under COVID-19 Challenge” yang menjelaskan mengenai dampak pandemic Covid 19 pada bisnis pakan di seluruh dunia. Pakan unggas saat ini banyak bergantung pada produksi komponen mikro yang banyak diproduksi di China, seperti vitamin, mineral, asam amino dan obat-obatan. Hambatan produksi komponen ini menyebabkan efek domino pada harga pakan unggas yang semakin tinggi.  Dalam jangka pendek produksi peternakan khususnya unggas mengalami pukulan yang luar biasa, meskipun demikian beberapa waktu yang akan datang ada harapan harga produk peternakan akan merangkak naik di Idul Fitri.  “Pandemi Covid 19 ini membawa banyak perubahan dalam perilaku digital, rantai penjualan logistik dan menyadarkan kita tingginya tingkat ketergantungan dunia unggas pada produk-produk China.  Dan ini menjadi tantangan untuk kita dapat memproduksi pakan lokal untuk kebutuhan peternakan Indonesia.” paparnya.

Dalam diskusi, Prof. Sumiati membuka dua termin pertanyaan yang disambut dengan berbagai pertanyaan dari peserta, baik dari IPB maupun dari luar IPB. Para akademisi mengajak setiap elemen stakeholders untuk bersama-sama membangun struktur industri pakan dan peternakan unggas di Indonesia dengan mengedepankan kemandirian pakan dengan menggunakan sumber daya lokal. Peserta lainnya, dari elemen peternak menyampaikan permintaan sharing pembicara dari peternak kecil dalam menghadapi masalah krisis ini.  Prof. Sumiati menutup diskusi pada pukul 12.30  dengan menyampaikan bahwa peternakan di Indonesia harus bertahan di tengah krisis Covid 19 karena kebutuhan masyarakat akan pangan produk peternakan.